Ujian Ketajaman Sistem Rekrutmen Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Terhadap Tujuan Pendidikan Nasional

 

Oleh Maya Trisia Wardani, S.Si, M.M

 

Pada Kamis, 20 Juli 2023 lalu, melalui sosialisasi online, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan system baru yaitu system pengangkatan kepala sekolah dan pengawas sekolah, terutama yang berasal dari guru penggerak.

Sebuah terobosan aplikasi yang disebut sebagai asisten digital tersebut diperuntukkan untuk membantu seleksi pengangkatan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah.

Pada sosialisasi tersebut dikatakan bahwa secara umum ada tiga keunggulan utama pada system baru untuk pengangkatan tugas yaitu, Pertama, menyediakan data terkini kandidat bakal calon kepala sekolah dan pengawas yang memenuhi syarat. Kedua, secara otomatis menampilkan data kebutuhan sekolah sesuai dapodik dan dapat diperbarui oleh Dinas Pendidikan. Ketiga, semua proses seleksi terdokumentasi dalam satu platform digital.

Dalam tujuan awal dari adanya Program Kementerian episode ke 24 itu terkait tentang guru penggerak. Dimana program tersebut memiliki tujuan utama yaitu melatih talenta guru supaya lebih berkualitas sehingga kelak lulusannya dapat menjadi pemimpin pembelajaran di kelasnya. Selain itu, secara tidak langsung guru yang terekrut harus memiliki kemampuan penguasaan IT yang baik, yang tercermin dari banyaknya fitur dan aplikasi terkini yang harus dikuasai dan dipahami calon guru penggerak. Mulai dari seleksi hingga saat tes dan pelaksanaan pelatihannya. Dimulai dari angkatan pertama yang berkisar antara enam hingga sembilan bulan. Karena itulah, maka kepangkatan atau pengalaman yang cukup dalam melaksanakan tugas pembelajaran di kelas tidak dijadikan syarat dalam seleksi perekrutan guru penggerak tersebut.

Hanya memang, hampir sebagian besar guru penggerak yang masuk seleksi rekrutmen adalah guru-guru muda yang bisa dibilang baru memulai mengajar.

Bisa dimaklumi bahwa guru yang telah berada pada fase sepuluh tahun terakhir masa purna bakti tentu akan mendapatkan banyak kesulitan dalam memahami informasi teknologi (IT) terkini sehingga kerap enggan bersaing dengan guru-guru muda dalam program tersebut.

Karena itu, program guru penggerak memang sangat potensial untuk menggali dan memunculkan talenta baru dalam memimpin pembelajaran di kelas. Logis memang, mengingat tujuannya adalah untuk memunculkan tunas dan cikal bakal pemimpin pembelajaran.

Dalam permendikbudristek nomor 40 tahun 2021 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah disebut bukan lagi menjadi tugas tambahan, melainkan murni menjadi manajer atau pemimpin dalam satuan pendidikan. Seperti telah disebutkan dalam syarat-syarat penugasan, yakni: 1) memiliki kualifikasi akademik paling rendah S1 atau D-IV dari perguruan tinggi dan program studi yang terakreditasi. 2) memiliki sertifikat pendidik; 3) memiliki sertifikat guru penggerak; 4) pangkat terendah penata muda tingkat I golongan ruang III/b bagi guru PNS; 5) jenjang jabatan terendah guru ahli pertama bagi guru P3K; 6) memiliki pengalaman manajerial paling singkat 2 (dua) tahun di satuan pendidikan, organisasi Pendidikan dan/atau komunitas Pendidikan.

Yang perlu kita kritisi bersama adalah, bahwa pemimpin pembelajaran di kelas sangat berbeda dengan pemimpin atau manajer di satuan pendidikan.

Perbedaan itulah yang menjadi dasar dikeluarkannya permen nomor 40 tahun 2021, dimana penugasan kepala sekolah bukan lagi menjadi tugas tambahan, melainkan murni penugasan sebagai manajer sekolah. Untuk itu pembekalan untuk menjadi manajer/kepala sekolah dan pengawas harusnya berbeda dengan pembekalan untuk menjadi guru bertalenta. Karena target guru adalah menjadi pemimpin pembelajaran di kelasnya.

Syarat menjadi kepala sekolah pada permendikbud di point enam yaitu, memiliki pengalaman manajerial paling singkat 2 (dua ) tahun, baik di satuan pendidikan, organisasi pendidikan atau komunitas pendidikan, yang diharapkan menjadi pedoman baku.

Sikap terburu-buru dalam mengangkat guru penggerak yang baru lulus pendidikan menjadi kepala sekolah, terlebih pengawas sekolah (yang tugasnya adalah menilai kinerja kepala sekolah) tanpa dibarengi pengalaman memimpin yang bisa dia dapatkan dalam satuan pendidikan maupun komunitasnya, maka akan berdampak kepada sulitnya guru tersebut beradaptasi dengan sekolah yang dipimpinnya atau dibina dan diawasinya.

Menjadi pemahaman bersama bahwa dalam satuan pendidikan bukan hanya berisi peserta didik saja, akan tetapi lebih dari itu semua. Karena selalu ada keterlibatan sang manajer dengan stakeholder dari berbagai unsur (komunitas pembelajaran dan instansi terkait), pegawai, guru dari semua bidang studi siswa yang memiliki minat dan ke-khas-an yang banyaknya sesuai dengan jumlah siswa di sekolah.

Kemudian orang tua murid, pengelola koperasi atau kantin, bahkan lebih dari itu, masyarakat atau tetangga yang terdekat memahami satuan pendidikan. Dimulai dari kecakapan dalam mengelola itu semua, maka akan didapat oleh para guru melalui pengalaman manajerial selama minimal dua tahun. Kendati idealnya akan lebih matang jika bisa memiliki pengalaman lebih dari itu dengan tingkat pemahaman pembelajaran atau pengalaman yang berbeda dari setiap guru.

Penugasan guru di sekolah seperti menjadi penanggungjawab pada delapan standar, yang masing-masing  terkait mengenai koordinator proyek, koordinator ekstra kulikuler, wakil kepala sekolah, hingga pengurus MGMP atau KKG dan komunitas lainnya yang dapat menjadi bekal serta pengalaman terbaik guru dalam mengelola institusi pendidikannya kelak.

Hal tersebut penting dan bermanfaat bukan hanya bagi sekolah yang akan dipimpin (kepala sekolah) atau dibina (pengawas) melainkan bermanfaat pula bagi peningkatan jatidiri dan marwah guru dalam melaksanakan tugas barunya. Baik sebagai kepala sekolah maupun pengawas. Pengalaman tersebut nantinya dapat menjadi bekal sangat penting dalam mengimplementasikan kecakapan atau kompetensinya. Terutama tingkat kecakapan yang dimiliki akan lebih banyak dibandingkan kompetensi yang dimiliki guru.

Karena itu diharapkan instansi dan organisasi terkait seyogyanya dapat mengawal bersama program terbaru pemerintah tersebut dan mengupayakan serta memberikan pengalaman bermakna bagi para guru. Sehingga tujuan utama pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya dapat terwujud. Karena selama kehidupan masih berlangsung setiap manusia adalah makhluk pembelajar. Kendati pengalaman selalu menjadi guru yang terbaik. (*)

Kepala SMPN 38 Bandar Lampung

Ketua APKS PGRI Lampung

 

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses